Kembali ke Blog
Refleksi atas karunia usia
24 August 2026

Refleksi atas karunia usia

Oleh : Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM
Pembina Yayasan Lidzikri Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN SGD Bandung

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِطُولِ الْعُمْرِ، وَنَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ هَذَا الْعُمْرَ الطَّوِيلَ بَرَكَةً وَمَزْرَعَةً لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لَنَا كَخَلْقٍ مِنْ خَلْقِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيُّ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَعَلَيْنَا أَجْمَعِينَ.

Allah berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkan-Nya kamu sebagai seorang anak, kemudian kamu dibiarkan hidup sampai dewasa, kemudian sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. Demikianlah agar kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan agar kamu memahami(nya).” (QS. Al-Mu’min : 67)

Usia adalah perjalanan yang tidak pernah berjalan mundur. Masa kanak-kanak berlalu, masa muda meninggalkan jejak, kedewasaan menjadi persinggahan, lalu senja perlahan mengetuk pintu kehidupan. Setiap detik adalah butiran pasir yang jatuh dari ruang waktu; sekali jatuh, tidak pernah kembali ke tempat semula.

Semakin bertambah usia, semestinya semakin matang pikiran, semakin lembut hati, semakin luas kebijaksanaan, dan semakin baik ibadah. Sebab bertambahnya umur bukan sekadar bertambah angka, melainkan berkurangnya jarak menuju batas perjalanan.

Rasulullah bersabda: “Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.” (HR. At-Tirmidzi)

Usia senja membawa pesan yang tidak selalu terdengar oleh telinga. Penglihatan mulai redup, pendengaran mulai berkurang, langkah tidak lagi secepat dahulu, ingatan terkadang kehilangan sebagian jejak. Tubuh perlahan mengajarkan satu pelajaran sederhana: segala sesuatu di dunia memiliki batas.

Tetapi senja bukan tanda berakhirnya cahaya. Senja adalah warna terakhir sebelum malam. Sebuah ruang hening untuk menghitung perjalanan sebelum pintu kehidupan dunia tertutup.

Terlebih Indonesia telah memasuki fase ageing population, dengan penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 11,97 persen berdasarkan hasil SUPAS 2025. Fenomena demografis tersebut bukan hanya persoalan angka, melainkan juga panggilan untuk menghadirkan kehidupan usia lanjut yang bermartabat, produktif, penuh makna, dan semakin dekat dengan nilai-nilai spiritual.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr : 18)

Pada usia senja, yang patut dirisaukan bukan rambut yang memutih, kulit yang berkeriput, langkah yang melambat, atau tenaga yang berkurang. Yang patut dirisaukan adalah lembaran amal difisit dan masih kosong ketika halaman kehidupan semakin mendekati halaman terakhir.

Jam kehidupan terus berdetak, sementara sebagian waktu justru habis untuk mengejar bayang-bayang dunia.

Masihkah kekuasaan menjadi bahan kasak-kusuk ketika waktu semakin pendek? Masihkah jabatan menjadi pusat ambisi ketika kubur semakin dekat? Masihkah posisi diperebutkan ketika setiap posisi pada akhirnya akan ditinggalkan?

Jabatan hanyalah kursi persinggahan; kekuasaan hanyalah bayangan di bawah cahaya matahari, pengakuan manusia (popularitas) hanyalah kabut. Ketika matahari bergeser, bayangan menghilang; ketika ajal tiba, jabatan pun kehilangan nama; ketika embun menguap popularitas semakin pudar.

Masihkah fitnah menjadi santapan lisan? Masihkah ghibah menjadi hiburan dalam pertemuan? Masihkah kabar tanpa tabayun menjadi dasar prasangka? Masihkah informasi dari sumber yang gemar namimah diterima tanpa ikhtiyat dan tanpa kejernihan akal?

Lisan yang tidak dijaga dapat menjadi pisau tanpa sarung; tidak selalu melukai tubuh, tetapi mampu mengoyak kehormatan, persaudaraan, ketenangan jiwa dan bahkan membakar amal shaleh yang telah dilakukan.

Ghibah mungkin terasa ringan di bibir, tetapi berat dalam timbangan. Fitnah mungkin hanya beberapa kata, tetapi dapat menjadi bara yang membakar persaudaraan. Namimah mungkin tampak seperti berita kecil, tetapi mampu menjadi api yang menjalar dari satu hati menuju hati lainnya.

Karena itu, semakin panjang usia, semakin panjang pula kebutuhan untuk menjaga lisan. Sebab, usia yang panjang tanpa kedewasaan jiwa hanyalah perjalanan panjang tanpa arah. Rambut semakin memutih, tetapi tanpa kebijaksanaan hanyalah uban penganggu dalam melakukan keelokan amal shaleh.

Semakin tua semestinya semakin sedikit prasangka, bukan semakin banyak tuduhan. Semakin luas pengalaman semestinya semakin kuat tabayun, bukan semakin mudah percaya. Semakin tinggi ilmu semestinya semakin rendah hati, bukan semakin mudah menghakimi.

Rasulullah bersabda: Hati orang yang sudah tua tetap muda dalam mencintai dua perkara: panjang umur dan harta.” (HR. Muslim) Betul, Islam tidak melarang harta, kedudukan, ataupun persiapan masa depan. Namun dunia akan menjadi berbahaya ketika menjadi tujuan utama, bukan sarana; ketika jabatan menjadi harga diri, kekuasaan menjadi candu, dan popularitas menjadi kebutuhan jiwa. Dalam hal ini, konon sebagian ulama pernah menegaskan bahwa: Dunia adalah bayangan, semakin dikejar maka semakin menjauh. Akhirat adalah kepastian, semakin dilupakan maka hakikatnya semakin dekat.

Rasulullah bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. At-Tirmidzi) Dalam konteks ini, panjang umur menjadi nikmat ketika setiap tambahan usia melahirkan tambahan kebaikan. Tidak mesti menunggu rambut memutih untuk mencari ampunan. Jangan menunggu tubuh melemah untuk mendekat kepada Tuhan. Jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti syukur.

Sebab kematian tidak mengenal jadwal. Ajal tidak menunggu jabatan selesai. Kubur tidak menanyakan popularitas. Malaikat maut tidak menimbang jumlah pengikut. Ketika pintu kehidupan dunia tertutup, hanya amal yang menjadi bekal perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya, semua kursi akan kosong, semua panggung akan gelap, semua tepuk tangan akan berhenti, dan semua nama akan kembali menjadi bagian dari sejarah. Yang tersisa hanyalah jejak amal di hadapan Allah.

Maka jangan takut kepada senja. Takutlah kepada senja yang datang tanpa bekal. Jangan takut kepada uban. Takutlah kepada hati yang tetap keras setelah panjang perjalanan. Jangan takut kehilangan jabatan. Takutlah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Jangan takut akan lenyap pengakuan manusia. Takutlah jika nama tidak lagi dikenal dalam doa para malaikat karena keringnya amal.

Ya, senja bukan sekadar tanda bahwa malam semakin dekat. Senja adalah pesan bahwa perjalanan telah panjang dan terminal terakhir semakin terlihat.

Maka memasuki senja, semoga setiap tambahan usia menjadi tambahan kedekatan kepada Allah. Semoga lisan dijaga dari ghibah, fitnah, dan namimah. Semoga hati dijauhkan dari dendam, iri, dan prasangka. Semoga akal selalu diberi kejernihan untuk melakukan tabayun sebelum mempercayai berita. Semoga kekuasaan tidak menjadi racun tujuan melangkah, jabatan tidak menjadi candu pikiran, pengakuan manusia tidak menjadi borgol kehendak dan dunia tidak menjadi penjara bagi hati.

Sebab hakikatnya, kehidupan hanyalah perjalanan dari tanah menuju tanah, lalu dari tanah menuju keabadian. Di antara dua tanah itu terdapat waktu yang bernama usia; dan usia adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

#Manusia Hening#Pembina Lidzikri Foundation- Philanthropy#Riung Bandung#Semoga ketika senja kehidupan benar-benar tiba, tangan tidak kosong, hati tidak gersang, dan perjalanan menuju akhirat tidak tanpa bekal#